Pagi ini sangat cerah. Mentari
bersinar memberikan kehangatan sinarnya. Namun, Rayhan masih saja berdiam diri
dikasur kesayangannya itu. Hari ini, Naila -pacarnya
selama setahun belakangan ini-
berangkat ke Sydney untuk pertukaran pelajar selama kurang lebih sebulan. Sebenarnya,
Rayhan tidak setuju dengan keberangkatan
Naila ke Sydney. Sudah berbagai cara ia coba untuk melarang Naila namun
hasilnya nihil. Rayhan merupakan salah satu tipe cowok yang agresif. Ia belum
siap kalau harus pisah dengan Naila, Rayhan bilang dia takut Naila jatuh cinta
dengan bule Sydney. Sejak subuh tadi, Naila sudah menelepon Rayhan dan meminta
Rayhan untuk mengantarkannya ke Soetta. Tapi, Rayhan tidak memperdulikan telepon
dari Naila. Rayhan kesal karena Nayla tetap kekeuh
ingin berangkat ke Sydney. Jarum panjang di jam tangan Naila menunjukkan pukul
06.15 wib. Sedangkan pesawat yang membawanya ke Sydney akan take off pada pukul
07.15 wib. Karena Rayhan belum juga datang Naila akhirnya memutuskan untuk
berangkat sendiri ke Soetta dengan menaiki burung
biru. Diperjalanan Naila masih sibuk
menelepon Rayhan namun tak ada jawaban darinya. Naila akhirnya mengirimkan pesan
singkat untuk Rayhan.
To : My Prince
(+628**********)
Kamu kemana aja
sih? Dari tadi aku miscall tapi gak ada jawaban dari kamu. Aku gak bisa nuggu
kamu lama-lama. Pesawatku take off jam 07.15 wib. Sebenarnya aku mau ketemu
kamu, karena ini hari terakhir aku di Jakarta sebelum aku pertukaran pelajar.
Sampai ketemu dilain waktu ya sayang. Aku sayang kamu:*
Naila masih menunggu balasan dari
Rayhan, namun tak ada satupun pesan singkat yang ia terima. Di lain tempat,
Rayhan masih saja bermalas-malasan di kasurnya. Ia tak memperdulikan puluhan incoming
calls ataupun text message dari Naila. Jam di kamarnya kini sudah menunjukkan
pukul 06.50 wib, yang artinya dalam dua puluh lima menit lagi Naila akan segera
take off ke Sydney. Ia mengambil ponsel miliknya. Terdapat 15 missed call dan
satu pesan singkat. Dibacanya pesan singkat itu, Rayhan segera beranjak dari
tempat tidurnya dan mengambil handuk lalu ke segera mandi. 10 menit setelahnya,
Rayhan mengambil kunci mobil dan pergi menyusul Naila ke Bandara. Ternyata, tol
saat ini sedang dalam keadaan macet parah sementara waktu telah menunjukkan
pukul 07.00 wib. Impossible bagi Rayhan untuk pergi ke Soetta dalam waktu 15
menit. Ia mengambil ponselnya dan membalas pesan Naila.
To : My Little
Princess (+628**********)
Maafin aku
sayang. Aku gak bisa nganter kamu ke Soetta. Aku terjebak macet di tol. Selamat
jalan sayang, sering-sering hubungin aku. Jangan lupa sama aku. Aku juga sayang
sama kamu:*
Naila yang sedang menunggu
pengumuman untuk masuk ke pesawat mengecek ponsel miliknya. Kali ini, ada satu
pesan masuk yang masuk ke nomornya. Ia membacanya dan segera melepon Rayhan.
“Halo” Naila
membuka pembicaraan.
“Halo
Sayang, maafin aku ya” Ucap Rayhan.
“Gapapa kok
sayang. Maafin aku juga harus pergi ninggalin kamu.”
“Kamu gak
perlu minta maaf, sayang. Kamu pergi kan untuk kebaikan kamu. Kita akan
dipertemukan lagi kok. Secepatnya”
“Iya sayang.
Yaudah ya, aku udah dipanggil untuk masuk ke pesawat. Sebentar lagi pesawatku
take off. Selamat tinggal sayang. Semoga kita bertemu lagi. Aku sayang sama
kamu.”
“Hati-hati
ya sayang. Aku juga sayang banget sama kamu. Jangan lupa hubungi aku kalau kamu
udah sampai disana” Ucap Rayhan mengakhiri pembicaraan.
Naila masuk
ke pesawatnya sedangkan Rayhan masih bermacet-macetan di tol.
Sejak dari rumah, Naila merasa akan ada suatu hal buruk yang akan
menimpanya dan Rayhan. Maka dari itu tadi, ia meminta Rayhan untuk mengantarnya.
Setelah meemukan tempat duduknya, ia meletakkan tasnya di kabin dan duduk
dengan cemas. Ia takut akan terjadi hal buruk dengan Rayhan. Ia ingin menelepon
Rayhan kembali, namun pramugari menegurnya untuk segera mematikan ponselnya
karena akan mengganggu penerbangan. Dengan penuh kecemasan, Naila mematikan
ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. Beberapa menit kemudian, pengumuman
untuk mengencangkan seat belt telah diumukan pramugari dan pesawat segera take
off. Cuaca hari ini sangat buruk untuk melakukan penerbangan. Beberapa kali
pramugari menyampaikan agar penumpang tetap tenang , tidak melepaskan seat belt
dan tidak beranjak dari tempat duduk masing-masing. Naila sangat cemas. 15 menit
setelah pengumuman, pesawat berguncang. Para penumpangpun panik. Guncangan di
pesawat semakin kencang, Naila takut. Sekarang ia hanya sendiri, tanpa Rayhan
yang menemaninnya. Lampu darurat telah dinyalakan, beberapa penumpang lain
mengambil masker oksigen karena kesulitan bernafas. Beberapa menit kemudian,
keadaan sudah kembali normal. Lampu daruratpun telah diredupkan. Namun, kecemasan Naila masih saja dapat ia
rasakan. Setengah jam pesawat dalam keadaan normal, tapi tak disangka pesawat
yang Naila tumpangi terjatuh di sebuah kawasan jurang yang curam.
Braakkk
Tak ada satupun penumpang maupun kru pesawat yang
selamat dalam peristiwa itu. Termasuk Naila.
-Di tempat lain-
Rayhan masih saja terjebak dalam kemacetan. Ia teringat dengan Naila. Ia
menyesal telah mengabaikan Naila. Seharusnya
mereka bertemu hari itu namun karena keegoisannya mereka tak dapat
bertemu. Pikiran Rayhan dipenuhi oleh Naila. Ia sedih, ia kesal, ia menyesal dan
merasa serba salah. Beberapa saat kemudian, jalanan telah lenggang tak sepadat
tadi. Rayhan menginjak gas. Spedometernya menunjukkan angka 140 km/jam. Mobil yang
Rayhan tumpangi melayang, namun karena pikirannya sedang kacau ia tak
memperdulikannya. Hingga saat spedometernya menunjukkan angka 160km/jam,
dan mobil yang Rayhan kendarai menabrak pembatas jalan dan menglibatkan 2 mobil
lain. Darah memenuhi baju Rayhan. Mobil yang ia kendaraipun hancur. Rayhan dan
beberapa korban lainnya segera dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Namun,
diperjalanan nyawa Rayhan tak dapat tertolong lagi. Rayhan telah menemui ajalnya.
Hari itu, merupakan hari jadi mereka yang ke lima belas bulan. Dan pada
tanggal 15 mereka menyatu di dunia maupun di alam lain. Rayhan dan Naila
meninggal dihari dan jam yang sama. Hanya selisih 15 menit setelah kejadian
jatuhnya pesawat Naila. Rayhan melihat Naila tersenyum dan memanggil namanya.
Dengan gaun putih yang Naila kenakan, ia terlihat sangat anggun. Senyumnyapun
terlihat berbeda dari biasanya. Rayhan dan Naila. Kini, mereka berdua telah
berbahagia bersama. Berbahagia bersama di alam lain.
-THE END-
By Rizka Erlyani
No comments:
Post a Comment