Sunday, December 15, 2013

Pagi ini sangat cerah. Mentari bersinar memberikan kehangatan sinarnya. Namun, Rayhan masih saja berdiam diri dikasur kesayangannya itu. Hari ini, Naila -pacarnya selama setahun belakangan ini- berangkat ke Sydney untuk pertukaran pelajar selama kurang lebih sebulan. Sebenarnya, Rayhan  tidak setuju dengan keberangkatan Naila ke Sydney. Sudah berbagai cara ia coba untuk melarang Naila namun hasilnya nihil. Rayhan merupakan salah satu tipe cowok yang agresif. Ia belum siap kalau harus pisah dengan Naila, Rayhan bilang dia takut Naila jatuh cinta dengan bule Sydney. Sejak subuh tadi, Naila sudah menelepon Rayhan dan meminta Rayhan untuk mengantarkannya ke Soetta. Tapi, Rayhan tidak memperdulikan telepon dari Naila. Rayhan kesal karena Nayla tetap kekeuh ingin berangkat ke Sydney. Jarum panjang di jam tangan Naila menunjukkan pukul 06.15 wib. Sedangkan pesawat yang membawanya ke Sydney akan take off pada pukul 07.15 wib. Karena Rayhan belum juga datang Naila akhirnya memutuskan untuk berangkat sendiri ke Soetta dengan menaiki burung biru.  Diperjalanan Naila masih sibuk menelepon Rayhan namun tak ada jawaban darinya. Naila akhirnya mengirimkan pesan singkat untuk Rayhan.

To : My Prince (+628**********)
Kamu kemana aja sih? Dari tadi aku miscall tapi gak ada jawaban dari kamu. Aku gak bisa nuggu kamu lama-lama. Pesawatku take off jam 07.15 wib. Sebenarnya aku mau ketemu kamu, karena ini hari terakhir aku di Jakarta sebelum aku pertukaran pelajar. Sampai ketemu dilain waktu ya sayang. Aku sayang kamu:*

Naila masih menunggu balasan dari Rayhan, namun tak ada satupun pesan singkat yang ia terima. Di lain tempat, Rayhan masih saja bermalas-malasan di kasurnya. Ia tak memperdulikan puluhan incoming calls ataupun text message dari Naila. Jam di kamarnya kini sudah menunjukkan pukul 06.50 wib, yang artinya dalam dua puluh lima menit lagi Naila akan segera take off ke Sydney. Ia mengambil ponsel miliknya. Terdapat 15 missed call dan satu pesan singkat. Dibacanya pesan singkat itu, Rayhan segera beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil handuk lalu ke segera mandi. 10 menit setelahnya, Rayhan mengambil kunci mobil dan pergi menyusul Naila ke Bandara. Ternyata, tol saat ini sedang dalam keadaan macet parah sementara waktu telah menunjukkan pukul 07.00 wib. Impossible bagi Rayhan untuk pergi ke Soetta dalam waktu 15 menit. Ia mengambil ponselnya dan membalas pesan Naila.

To : My Little Princess (+628**********)
Maafin aku sayang. Aku gak bisa nganter kamu ke Soetta. Aku terjebak macet di tol. Selamat jalan sayang, sering-sering hubungin aku. Jangan lupa sama aku. Aku juga sayang sama kamu:*

Naila yang sedang menunggu pengumuman untuk masuk ke pesawat mengecek ponsel miliknya. Kali ini, ada satu pesan masuk yang masuk ke nomornya. Ia membacanya dan segera melepon Rayhan.
“Halo” Naila membuka pembicaraan.
“Halo Sayang, maafin aku ya” Ucap Rayhan.
“Gapapa kok sayang. Maafin aku juga harus pergi ninggalin kamu.”
“Kamu gak perlu minta maaf, sayang. Kamu pergi kan untuk kebaikan kamu. Kita akan dipertemukan lagi kok. Secepatnya”
“Iya sayang. Yaudah ya, aku udah dipanggil untuk masuk ke pesawat. Sebentar lagi pesawatku take off. Selamat tinggal sayang. Semoga kita bertemu lagi. Aku sayang sama kamu.”
“Hati-hati ya sayang. Aku juga sayang banget sama kamu. Jangan lupa hubungi aku kalau kamu udah sampai disana” Ucap Rayhan mengakhiri pembicaraan.
Naila masuk ke pesawatnya sedangkan Rayhan masih bermacet-macetan di tol.
Sejak dari rumah, Naila merasa akan ada suatu hal buruk yang akan menimpanya dan Rayhan. Maka dari itu tadi, ia meminta Rayhan untuk mengantarnya. Setelah meemukan tempat duduknya, ia meletakkan tasnya di kabin dan duduk dengan cemas. Ia takut akan terjadi hal buruk dengan Rayhan. Ia ingin menelepon Rayhan kembali, namun pramugari menegurnya untuk segera mematikan ponselnya karena akan mengganggu penerbangan. Dengan penuh kecemasan, Naila mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. Beberapa menit kemudian, pengumuman untuk mengencangkan seat belt telah diumukan pramugari dan pesawat segera take off. Cuaca hari ini sangat buruk untuk melakukan penerbangan. Beberapa kali pramugari menyampaikan agar penumpang tetap tenang , tidak melepaskan seat belt dan tidak beranjak dari tempat duduk masing-masing. Naila sangat cemas. 15 menit setelah pengumuman, pesawat berguncang. Para penumpangpun panik. Guncangan di pesawat semakin kencang, Naila takut. Sekarang ia hanya sendiri, tanpa Rayhan yang menemaninnya. Lampu darurat telah dinyalakan, beberapa penumpang lain mengambil masker oksigen karena kesulitan bernafas. Beberapa menit kemudian, keadaan sudah kembali normal. Lampu daruratpun telah diredupkan.  Namun, kecemasan Naila masih saja dapat ia rasakan. Setengah jam pesawat dalam keadaan normal, tapi tak disangka pesawat yang Naila tumpangi terjatuh di sebuah kawasan jurang yang curam.
Braakkk
Tak  ada satupun penumpang maupun kru pesawat yang selamat dalam peristiwa itu. Termasuk Naila.
-Di tempat lain-
Rayhan masih saja terjebak dalam kemacetan. Ia teringat dengan Naila. Ia menyesal telah mengabaikan Naila. Seharusnya  mereka bertemu hari itu namun karena keegoisannya mereka tak dapat bertemu. Pikiran Rayhan dipenuhi oleh Naila. Ia sedih, ia kesal, ia menyesal dan merasa serba salah. Beberapa saat kemudian, jalanan telah lenggang tak sepadat tadi. Rayhan menginjak gas. Spedometernya menunjukkan angka  140 km/jam. Mobil yang Rayhan tumpangi melayang, namun karena pikirannya sedang kacau ia tak memperdulikannya. Hingga saat spedometernya menunjukkan angka 160km/jam, dan mobil yang Rayhan kendarai menabrak pembatas jalan dan menglibatkan 2 mobil lain. Darah memenuhi baju Rayhan. Mobil yang ia kendaraipun hancur. Rayhan dan beberapa korban lainnya segera dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Namun, diperjalanan nyawa Rayhan tak dapat tertolong lagi. Rayhan telah menemui ajalnya.
Hari itu, merupakan hari jadi mereka yang ke lima belas bulan. Dan pada tanggal 15 mereka menyatu di dunia maupun di alam lain. Rayhan dan Naila meninggal dihari dan jam yang sama. Hanya selisih 15 menit setelah kejadian jatuhnya pesawat Naila. Rayhan melihat Naila tersenyum dan memanggil namanya. Dengan gaun putih yang Naila kenakan, ia terlihat sangat anggun. Senyumnyapun terlihat berbeda dari biasanya. Rayhan dan Naila. Kini, mereka berdua telah berbahagia bersama. Berbahagia bersama di alam lain.


                -THE END-

By Rizka Erlyani


Love Until We Die


Comments
Share
Related


No comments:

Post a Comment

About

Be yourself. Be different. Therefore, life is very short to continue replicate what has been made ​​by others. What have you made ​​will look better if you made ​​it yourself.

Popular Posts

Designed By Seo Blogger Templates